XI. RELASI ADALAH SEGALANYA

Tibalah kini kita kepada inti pembahasan. Tidak banyak teman-teman non-kristiani yang
paham bahwa kristlanitas menempatkan RELASI dan bukan ATURAN-ATURAN AGAMA sebagai bagian dari ibadah yang paling utama. Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa “hukum” yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukumnya adalah relasi!

Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi-kasih diantara mahluk dengan Khaliknya. Itulah sistim dan “aturan” nya yang terutama.

Bukankah aspek kehidupan kita yang paling pokok adalah relasi kita dengan orang-tua kita, teman-teman calon pasangan kita, suami, isteri, anak-anak dst.? Tanpa relasi, kita hanya menemukan kehidupan dan dunia yang hampa Anggur pesta boleh berlimpah. musik boleh menggelegar, bahkan narkoba dan sex boleh berpora-ria, Namun tanpa relasi. Anda akan ditinggalkan dalam ketandusan dan kehampaan jiwa. Bahkan relasi sesama-manusia pun tidak akan memadai tanpa disertai dengan relasi dengan Pencipta dirinya. Kenapa begitu?

Ya, Alkitab menerangkan kepada kita bahwa akar dari kehampaan adalah karena manusia memalingkan mukanya dari Allah, yang merupakan SUMBER HIDUP YANG SEJATI.

• Allah berkata; “Carilah Aku. maka kamu akan hidup!” (Amos 5:4)
• Mazmur Daud berkata: “Sebab padaMu ada sumber hayat” (Mazmur 36: 10)
• Injil berkata: “Dalam Yesus ada hidup” (Yohanes 1 :4).
• Yesus berkata “Akulah roti hidup” … “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yohanes 6:35. 11:25).
• Yesus mengumpamakan : “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya …. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering …” (Yohanes 15:5.6)

Kehidupan (yang sejati dan kekal) hanya berfungsi ketika kita be-relasi intim dengan sumber hidup, yaitu Yesus (!) yang menyatu dalam Bapa dan RohNya (Kejadian 1:26; 3:22; Yohanes 8:42: 10:30; 15:26; 14: 10: dll). Sebaliknya, roh jahat amat takut bila terjadinya pengenalan Allah oleh manusia. dan relasi antara manusia dengan Penciptanya. Sebab itu akan berarti pertobatan manu ia kepada Khaliknya yang berakibatkan kebangkrutan bagi kerajaan setan. Itu sebabnya roh jahat memakai tangan-tangan manusia untuk menolak keseluruhan konsep-relasi ini. Ia menolak “Bapa”, maupun “Anak’. dan “Roh Kudus”. Keberadaan Anak Allah dianggap sebagai pencemaran kekudusan Allah yang tak mungkin beranak karena la tak mungkin beristeri (padahal tidak ada anak-anak Tuhan yang mengimani Allah yang beristeri lalu beranak). Keilahian Roh Kudus digeser menjadi hakekatnya seorang mahluk malaikat saja. Dan hubungan langsung dari anak-manusia dengan Allahnya dimustahilkan, karena Allah bukan Bapanya siapa-siapa melainkan DIA-lah Dia yang tak terjangkau oleh mahlukNya Bahkan terhadap Yesuspun didongengkan dalam pelbagai versi tentang putus-nya hubungan Yesus dengan murid-muridNya, mulai dari menghilangkan Yesus yang tersalib. atau jenazahNya yang dicuri, atau akhirnya pengutusan kenabianNya dialihkan ke negeri Timur entah kemana. dan dialihkan oleh Allah yang mana (lihat bab V. sub Penyaliban). Padahal dimana-mana Yesus selalu menjanjikan penyerta-anNya kepada para pengikutNya sampai kepada akhir zaman! (Matius 28:20; 18:20 dll).

Roh jahat tidak ingin adanya hubungan-kasih dan relasi rohaniah ini. Namun sejak kejatuhan Adam. Allah justru yang merancang pemulihan hubungan istimewa ini dengan meng-inkarnasikan FirmanNya (Kalimat Allah) kedalam dunia menjadi manusia, agar bisa be-relasi dan berfirman langsung dengan manusia. Sejak itu tidak diperlukan lagi peran-antara berupa nabi-nabi, atau agen penyampai-wahyu yang lain, harap baca kitab Ibrani 1: 1-3 dengan seksama Yesuslah yang menjalankan misi dan janji keselamatan Allah, langsung kepada murid-muridNya, dan kini kepada setiap manusia.

la berulang-ulang menyerukan relasi langsung: “lkutlah Aku!” la tidak berkata: “lkutlah, agama Musa”. atau Ikutlah agama Abraham “, atau bahkan “Ikutlah agama-Ku”. Yesus tidak memanggil orang-orang untuk mengikuti sebuah agama, atau sekumpulan kaidah, ibadat atau upacarawi keagamaan yang jelas bukan merupakan sumber dan pusat penyelamatan. la mengundang Anda dan saya untuk datang langsung kepada DiriNya, berelasi dengan PribadiNya yang merupakan sumber-daya dan pelaku penyelamatan secara berkepastian!

• Kepada masing-masing Matius dan Filipus, Yesus berkata: “Ikutlah Aku!” (Matius 9:9; Yohanes 1:43).
• Kepada Petrus dan Andreas. Ia berkata: “Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala rnanusia” (Matius 4: 19).
• Kepada salah satu pengikutNya. Ia berkata: “Ikutlah Aku dan biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Matius 8:22).
• Kepada seorang muda yang kaya. Ia berkata: “Datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Matius19:21).
• Kepada Petrus menjelang kenaikanNya kesorga, Yesus berkata: “Tetapi engkau. ikutlah Aku” (Yohanes 21:22)

“Ikutlah Aku” versus “Ikutlah agamaku”

Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya kesorga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian naik kesorga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6). Keselamatan, dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara “Ikutlah Aku” (baca: Ikut Yesus – disingkat IA) dan “Ikutlah Agamaku” (baca: ikut sebuah agama – disingkat IAK). Didunia ini kita berhadapan dengan dua mazhab pengikut seperti itu. satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini:

1.Kesenjangan kedekatan dengan sumber Firman.

Konsep (IA) memfokuskan Yesus sebagai Pribadi¬Firman (“Pemilik- firman”) yang berfirman dan berelasi langsung dengan pengikut firmanNya, yang sekaligus menjadi saksi mata atas firmanNya.

Sebaliknya konsep (IAK) memfokuskan wahyu dari “Pemilik-firman ” yang dipercaya telah didikte-kan kepada manusia. lewat perantara mahluk tertentu (baca: malaikat) untuk diteruskan kedalam ingatan manusia tertentu (baca: nabi) sebelum diucapkan kepada manusia. Disini jelas bahwa relasi antara Pemilik-firman dan pengikutNya adalah sedemikian jauhnya. sehingga praktis tak dapat dt-substansikan. Bahkan pengikut firman Nya sendiri tidak menjadi saksi mata atas firman Allah yang diwahyukan lewat dua tahapan mahluk perantara.

Akibatnya, para penganut (IA). kini dan sampai kapanpun dapat selalu berkomunikasi langsung dengan “Pemilik firman “, karena peranNya sebagai Imanuel selalu aktif dan langsung. Sebaliknya menjadi pertanyaan terbuka, bagaimanakah penganut (IAK) kini dapat berdoa, bersembahyang, atau berko¬munikasi langsung dengan “Pemilik firman” mengingat dulu-dulu-pun Firman dan komunikasi AI~ lah-nya tidak pernah diwahyukan secara langsung kepada mereka?! Dan andaikata mereka sekarang memang bisa berkomunikasi langsung, kenapa Allah dulu-dulunya tidak berwahyu langsung puja, melainkan lewat dua tahapan mahluk perantara??

2. Kesenjangan akan jaminan keselamatan

Konsep “Ikutlah Aku” mengakui Yesus sebagai pemilik dari pengikutNya. Mereka adalah domba-domba milikNya, dan Dia adalah Gembala yang baik, Penyelamat (penebus) dan yang empunya sorga (Yohanes 14:3).

Karena Yesus adalah sosok gembala, penyelamat dan pemilik sorga, maka para pengikutNya tidak akan tersesat tidak sarnpai ketujuannya. Mereka ikut Yesus, dan itu sudah langsung masuk dalam gerbong kereta yang jalur-keretanya sudah benar sampai ketujuannya. yaitu lurus kesorga. dan tidak kebingungan dalam persimpangan memohon untuk ditunjuki lagi mana jalan yang lurus!

Keselamatan adalah anugerah langsung dan pasti dari Sang Gembala kepada domba-domba yang berelasi dengan diriNya. Maka keselamatan-kekal bukanlah hasil-usaha manusia. karena manusia yang tidak kekal (yaitu domba yang lemah. rapuh dan rawan. yang amat tak berdaya dihadapan Tuhan) sungguh tak mampu mengusahakan sebuah keselamatan kekal bagi dirinya. Menyelamatkan diri kita sendiri dari sakit. dan susah. dan kematian-badani saja kita tak sanggup; maka bagaimana dapat kita menyelamatkan diri kita dari neraka. suatu kematian-kekal akibat dosa-dosa kita?

Alkitab berkata, bahwa keselamatan itu anugerah Allah, bukan buah usaha manusia! (Efesus 2:8.9) Namun salah pahamlah Anda Jikalau menyangka bahwa dengan anugerah yang cuma-cuma ini lalu anak-anak Tuhan akan ber-ongkang-ongkang kaki tidak usah berbuat apa-apa lagi. karena merasa sudah selamat. Itu bukan namanya anak Tuhan, melainkan anak durhaka, yang tak tahu terima kasih!

Lihat artikel :
YESUS KRISTUS, GEMBALA YANG BAIK, di yesus-kristus-gembala-yang-baik-vt2320.html

Membalas budi, bukan membeli budi
Justru karena kebaikan Tuhan itulah, kini kita rindu melakukan perintah dan kehendakNya Perbuatan-perbuatan baik kita lakukan sebagai ungkapan syukur dan kasih kita atas keselamatan yang telah Dia berikan cuma-cuma kepada kita, bukan untuk “membeli” keselamatan, lewat setoran pahala. Dengan kata sehari-hari, kita “membalas budi”, bukan membeli budi!

Sebaliknya, konsep (IAK) tidak memberikan jaminan pasti akan keselamatan. Para pengikut sebuah agama mengandalkan usaha dan perjuangan mereka untuk memahami dan mentaati pernik hukum. rukun, ibadat dan aturan upacarawi keagamaan yang ditetapkan oleh Allah, agar dapat mengusahakan amal-pahala yang mudah-mudahan cukup melayakkan keselamatannya kelak. Disini Allah bersuara, lewat nabiNya,
agar manusia beraction. Namun Dia sendiri tidak ber-action dalam tindak-penyelamatan

Sebaliknya Yesus telah bersuara dan beraetion! Yesus sendiri turun tangan turun kedunia untuk menyelamatkan anak-anakNya yang tak berdaya keluar dari pembelengguan dosa yang mematikan. Dia yang mematahkan kematian. dan bangkit dan memberi hidup bagi mereka yang menjawab undanganNya yang unik, “Ikutlah Aku!”

3. Kesenjangan peluang keselamatan karena beda ilmu agamanya.

Konsep (IAK) mutlak menuntut pemahaman ilmu agama bagi setiap pengikut yang benar, yaitu penguasaan pasal-pasal hukum, akidah, ritual ibadat, aturan-aturan upacarawi keagamaan, jenis pahala dan bobotnya dll agar dapat mengoperasikannya secara benar dan maksimal apa-apa yang diharuskan dan yang diseyogyakan dalam aturan agamanya. Juga apa-apa yang harus diharamkan, dan apa yang masih boleh ditoleransikan Dengan demikian, tentu banyak aturan-aturan yang masih “tersembunyi” bagi para pengikutnya, baik yang tersurat, yang tersirat, perbedaan tafsir dan mazhab, dan bagaimanapun memang ada saja yang tidak mampu tahu semuanya! Secara natural tuntutan demikian akan membagi para pengikut menjadi pihak yang lebih-berilmu dan yang kurang-berilmu dalam pemahaman agamawi yang meng-hasilkan pahala, yang pada gilirannya dapat men-ciptakan peluang keselamatan yang berbeda diantara keduanya.

Khususnya bagi orang yang miskin ilmu-agama karena termasuk yang buta-huruf, kurang-akal, cacat fisik tertentu, atau setidaknya bagi penganut-pemula atau petobat yang kasep (sesaat menjelang kematiannya).

Sebaliknya konsep (IA) berpusat pada relasi kasih. “Ikutlah Aku!”, adalah seruan kasih Yesus yang amat sederhana dan mendasar untuk menyelamatkan siapa saja yang merespon undangan-Nya untuk ber-relasi. “Marilah kepadaKu, semua vang letih lesu dan berbeban berat … “, demikian panggilan kasih Yesus kepada manusia (Matius 11 :28).

Panggilan keselamatan yang tidak ada urusan dengan apakah dia sibuta-tuli-bisu ataukah dia ” ahli Taurat” . Tak peduli ia laki-laki atau perempuan, kriminal atau pemungut cukai Ikut Yesus tidak memerlukan ilmu, melainkan iman! Untuk ini, mari kita renungkan sejenak kisah seorang kriminal yang tersalib disamping salib Yesus (lihat Lukas 23: 33-43). Pada detik-detik terakhir, sipanjahat ini meminta Yesus untuk menerima dia sebagai pengikutNya, “Yesus, ingatlah akan aku .. “. Maka Yesus serentak menganugerahkan penjelamatan penuh baginya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus” (Lukas 23:43). Disini tampak betapa Sang Firman (Kalimat Allah) seolah-olah kembali menghunjukkan Kalimat-kuasaNya: “Jadilah!”. Sama seperti ketika Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dalam sekejab, begitu pula Dia memulihkan keber-desaan sipenjahat serta menganugerahkan keselamatan yang pasti, penuh dan seketika! Tidak ada istilah “moga-moga”. Tidak juga dengan masa percobaan’ Atau ditimbang-timbang besaran “pahalanya”.

Sebaliknya, pada konsep “Ikutlah agamaku” (IAK), Anda selalu akan bertanya: Apakah ada kemungkinan “keselamatan-instant” (yang dapat dipertanggung jawabkan) pada saat-saat yang teramat kritis ketika seseorang dieksekusi seperti pada contoh si penjahat diatas? Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu, yang “kasep tapi belum kasep” agar sedikit sedikitnya dia mendapat kesempatan dan kemungkinan untuk selamat?

Mendatangkan pertanyaan pada konsep (IAK), apakah “keselamatan-instant” seperti contoh si penjahat diatas dimungkinkan? Apa yang harus dilakukan oleh sipenjahat tersalib itu agar dia dapat selamat?

Relasi yang tak memerlukan ilmu-agama ini juga ditampakkan ketika Yesus terlihat memarahi murid-muridNya yang mencegah anak-anak kecil untuk menghampiri dan menjamahNya:

“Biarkan anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah vang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mereka (Markus 10: 14-16).

Anak-anak kecil tidak mempunyai ilmu, tetapi mempunyai hati. Mereka tidak mandiri, “miskin”, tak bisa berusaha, tak berdaya, tetapi bergantung sepenuhnya kepada Bapak (dependent). Anak-anak kecil adalah kaum yang rendah hati, sederhana, polos, pemaaf, membawa damai, dan hati yang terbuka. Tetapi lebih dari semua, mereka percaya total, beriman penuh kepada bapaknya, Mereka adalah pengikut yang paling layak bagi seruan Sang Bapa: “Ikutlah Aku”! Mental dan alam jiwa demikianlah yang dinyatakan Yesus sebagai yang empunya sorga. Mereka tidak mengusahakan keselamatan, namun mereka diselamatkan dan mendapatkan berkatNya!

Dan dalam kapolosan kanak-kanaknya. mereka bersyukur, melompat-lompat dan bersorak-sorai memuji sang Bapa …. Betapa indahnya!

“Bapa, adalah total relasi

Dikeseluruhan Injil. Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk memanggil Allah sebagai BAPA dan tidak ada nama panggilan yang lain. Dalam doa kepada Allah, Yesus juga meminta mereka memanggil “Bapa kami”. Dalam bahasa Aram, Bapa disebut ABBA, suatu sebutan yang amat pribadi, intim, dan penuh dengan kasih dan pengampunan. Inilah panggilan/ sebutan yang menunjukkan relasi-pribadi dan langsung yang luar biasa dekatnya antara Allah Sang Pencipta dengan manusia ciptaanNya. suatu hal yang asing dalam agama lainnya. Orang-orang lain tak dapat mengakui Tuhan itu sebagai Bapanya, karena manusia hanyalah hamba (budak) dari Tuan yang Maha Besar, yaitu Allah. Namun dalam Injil. terdapat sebutan BAPA sebanyak 186 kali (!) yang ditujukan kepada Allah. Apakah istilah ini dipalsukan sehingga tetap diingkari? Tuduhan naif! Fakta ini sendiri telah menunjukkan betapa pentingnya sosok “Bapa” sebagai total-relasi bagi manusia. Sebab dengan sebutan ini kita sekaligus ditempatkan sebagai anak-anak Allah yang dikasihiNya. dan bukan budakNya yang tidak berhak atas kasihNya. kecuali hanya menunaikan tugas dan beban.

“Bapa” adalah panggilan Yesus yang pertama kalinya ketika Ia disalib, “Ya, Bapa ampunilah mereka …” (Lukas 23:34). Dan juga merupakan panggilan Yesus yang terakhir kalinya, sesaat sebelum Ia menyerahkan nyawaNya: “Ya Bapa. kedalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Lukas 23:46).

Sambil lalu, panggilan “Bapa” ini sekaligus membuktikan bahwa Yesus sendirilah yang tersalib (dan bukan orang lain) yang sedang memanggil BapaNya. Panggilan yang begitu intim dan mulia itu dapatkah diserukan oleh” sosok imitasi” (entah siapa), yang katanya. dimirip-miripkan Allah diatas kayu salib demi mengelabui semua orang-orang Yahudi?! Apakah Allah yang Maha Benar dan Kuasa itu kehabisan cara sehingga perlu mengelabui umatNya? Termasuk murid dan pengikutNya dan Maria, ibuNya? Yang ikut menjadi saksi-mata sampai kedekat salib Anaknya? (Yohanes 19: 25-27). Jikalau begitu, Allah yang mengelabui itu tentu bukan Bapa yang di serukan Yesus!

Kembali ke-pasal semula tentang relasi dengan Tuhan yang tidak menuntut penguasaan ilmu-ilmu agama untuk bisa diselamatkan. Harap jangan salah. Kristianitas bukan melecehkan ilmu. atau tidak bertanggung jawab dalam pendewasaan rohani. Ikut Yesus adalah masuk dalam relasi dengan Yesus. dan mulai belajar mengasihi Dia, karena Dia telah mengasihi kita terlebih dahulu. Secara natural kita akan bersyukur kepadaNya, senang mendengar “suaral-lya”, dan belajar ten tan firmanNya. yaitu Injil Kabar Baik. Kita menjadikan itu makanan rohani kita, yang ternyata memberikan berkat yang nyata dalam kehidupan baru kita bersama Dia. Kita bertumbuh dalam iman. dan selalu ingin menyenangkan hati Tuhan. dengan melakukan apa-apa yang dipesankanNya dalam Janji-Nya.

Bukan usaha-usaha keselamatan melainkan buah-buah keselamatan
Melakukan perintah-perintah Tuhan bukanlah usaha-usaha mencari keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan’ Dan alasan yang terbaik untuk itu hanyalah tiga kata sederhana, yaitu karena Tuhan Itu Baik’ “Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19).

Satu Tanggapan

  1. […] ADALAH SEGALANYA Posted on 5 May 2010 by Triani Artikel bisa di lihat di sini. This entry was posted in Kristen. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: