V. APA PERLU-PERLUNYA YESUS DATANG KEDUNIA?

Sebenarnyalah, malaikat Gabriel sudah amat jelas menjawab pertanyaan ini dengan memaknakan enam nama dan gelar Yesus dalam peran yang akan dijalaniNya. Ini sebenarnya sudah lebih dari cukup. Namun dari dulu manusia terbiasa menuntut pembuktian berlebihan kepada Tuhan. Bukankah sudah disebutkan bahwa nama Yesus, dan gelar Kristus, dan sebutan Juru Selamat, semuanya bukan hanya sekedar memberikan pengajaran, melainkan justru memerankan fungsi penyelamatan “Allah Juru-Selamat”. Dan gelar Tuhan dan Anak Allah jelas untuk menyatakan Lordship, Raja Ilahi yang didatangkan dan diwalikan kedunia. Dan sebutan Kudus diberikan untuk menegakkan hakekat kekudusanNya, sekaligus keteladanan bagi manusia yang seharusnya hidup kudus seperti Dia.

Sejarah manusia disepanjang zaman, dari sejak dahulu kala, adalah selalu mencari-cari Tuhan didalam kekelaman. Tatkala para nabi berseru, “Lihatlah kepada Tuhan, lihat Terang dunia, taat dan sembah Dia”. Namun manusia selalu berteriak balik:
“Manakah Tuhan? Siapa namaNya? Dan seperti apa Dia?”. Pencaharian manusia terus berlanjut. Dan pencaharian yang sama ini masih diteruskan oleh Filipus, murid Yesus sendiri, yang justru buta akan apa yang sudah ada didepan matanya selama bertahun-tahun. Ia berkata kepada Yesus: . “Tuhan, tunjukanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami. ”

Tentu saja Yesus amat sedih. Maka Ia menegurnya serta mempertanyakan imannya:

“Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: ‘Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami’. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yohanes 14:9, 10).

Banyak orang mencari-cari dengan susah payah dan salah arah, karena apa yang dicari itu sering tidak disadari telah ada didepan matanya. Dan kini, bila Anda mau mencari Allah, maka Anda tidak usah mencarinya susah dan jauh. Ia telah ada disini. Ia menampakkan diriNya, perkataanNya, kalimatNya, dan perbuatanNya di dalam Yesus AI Masih. Kini kita tahu bagaimana Allah merasakan, mencintai, dan bertindak atas sesuatu. Secara pribadi Ia mengajar, mengasihi, dan memberi contoh dan keteladanan kepada kita. Ia mengundang Anda dan saya untuk ber-relasi dengan Dia. Akhirnya Ia sangat dekat dengan kita. Ia memperbaharui kehidupan kita yang fasik, dan menyelamatkannya.

Mencari Sang Hidup ditempat yang salah
Kepada Anda masih mencari mencari Dia di kegelapan kelam? Semisal “dikuburan”?
Dia tidak ada di tempat kekelaman : Dia Terang.
Tidak juga di tempat kematian; Dia Hidup. Malaikat Tuhan berseru : “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, diantara orang mati?

Misi terbesar bagi kemanusiaan

Banyak orang percaya bahwa disepanjang zaman, Allah berwahyu kepada manusia, entah lewat nabi, malaikat atau lainnya. Tentu setiap wahyu adalah pesan-pesan penting. Namun omong-omong secara hipotetis, bila semua wahyu dapat dikumpulkan dan diseleksi, maka wahyu manakah kiranya yang membawa berita yang paling penting bagi kemanusiaan? Jawabannya pasti akan berbeda dan membingungkan diantara manusia. Namun tidak demikian halnya dengan Gabriel. Ia telah mengumandangkan berita terbesar bagi dunia ketika” ia berkata kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu JURUSELAMAT, yaitu Kristus, Tuhan, dikata Daud”! Ini yang disebut KABAR BAIK, yaitu INJIL KERAJAAN ALLAH bagi segenap mahluk (Injil dalam bahasa asli Yunani berarti “Kabar Baik”). Karena pada hari itu lahirlah sebuah misi-penyelamatan yang kekal bagi manusia, oleh seorang Raja Penyelamat, yaitu Kristus, Al-Masih, yang adalah Tuhan! Tentu saja Ia harus Tuhan sebagai Raja Penyelamat.

Bagaimana cara Yesus Kristus menyelamatkan manusia? Ya, disamping mengajar, memberi peringatan dan keteladanan, dan merelasikan Allah dengan manusia, Kristus khusus datang untuk menyelamatkan manusia dengan suatu prosedur. Walau Yesus itu Juruselamat yang berwenang, namun Ia tidak sewenang-wenang untuk mengampuni dosa seseorang serta menyelamatkannya tanpa prosedur. Allah bukan hanya Maha Kasih, namun Iapun Allah yang Maha Adil yang justru aktif menuntut hukuman bagi setiap manusia yang pendosa. Jadi semua pengampunan dosa itu harus dilakukanNya sesuai dengan konsekwensi hukum, yaitu dengan membayar harga untuk sebuah pengampunan. (lihat lebih lanjut dibawah ini, dan di bab VI).

Hukum kekudusan Allah berkata: ” Upah dosa adalah maut”, suatu kematian kekal.
Semua kita manusia telah berdosa, dan karenanya kita telah terhukum mati (vonis nyawa) dalam dosa kita. Istilah populernya, kita semua adalah “orang mati yang berjalan”. (Istilah Alkitabnya, “engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati”, atau” orang-orang mati menguburkan orang-orang mati”).

Pengampunan menurut Taurat
Apabila kita ingin terlepas dari “vonis nyawa” ini, tidak bisa tidak kita harus membayar harga pengampunan yang setimpal, yaitu membayar yang sesuai hukum Taurat “Nyawa ganti nyawa…” (Keluaran 21:24). Dalam hukum Taurat, hampir segala sesuatu disucikan dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), dan “tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan” (Ibrani 9:22). Ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan di atas mezbah, berulang ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Mesias.

Lihat artikel terkait :
PENGAMPUNAN DENGAN DARAH, di pengampunan-dengan-darah-vt215.html#p413

V. PENGAMPUNAN MENURUT TAURAT, di apa-perlunya-yesus-datang-ke-dunia-vt216.html#p418

Yesus sebagai Anak Domba Allah

Kita “manusia-mati yang berjalan” ini tidak mungkin bisa menebus diri kita yang mati (rohani). Hanya Yesus yang tanpa dosa dapat melakukannya, yaitu dengan sengaja memilih diriNya dilahirkan kedunia (dan tinggal ditengah-tengah manusia) untuk menemui kematian lewat penyaliban, demi dapat menebus harga kematian kekal itu bagi kita. Dalam Alkitab Dialah Mesias yang dilambangkan sebagai Anak Domba yang tak bernoda yang menjadi korban penebusan dosa (1 Petrus 1:18, 19), Yohanes Pembaptis berseru ketika melihat Yesus datang kepadanya: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:27). Itu adalah misi Yesus yang terbesar, sekaligus adalah ujud kasih Allah yang superlatif, yang paling luhur kepada manusia, seperti yang tertulis:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal (Yesus), supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa. melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 16).

Mengaruniakan Sang Anak adalah mengaruniakan seluruh diriNya, yaitu nyawaNya.
Yesus dilahirkan kedunia, dan mati, agar kita dilahirkan-baru didalam Dia.

Ayat inilah yang merangkum makna Kabar Baik, INJIL, yang disebutkan oleh Gabriel kepada para gembala: ” … telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, dikata Daud”! (Lukas 2:11) Yesus sendiri berkata dalam pelbagai versi dan istilah, bahwa alasan bagiNya untuk datang kedunia adalah untuk menyerahkan nyawaNya -menumpahkan darahNya- sebagai bagian dari pengampunan/ penebusan dosa kita, yang dinyatakan dalam penyalibanNya.

• “Anak Manusia (Yesus) juga datang … untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus10:45).

• “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10: 11).

• “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, (dan) kamu adalah sahabatKu.” (Yohanes 15:13)

• “Inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28).

Dengan demikian, Kabar Baik atau Injil yang dibawakanNya adalah Injil-Salib, yang ditandai dengan darah pengorbanan demi penebusan.

Yesus tidak berkata sendirian, namun kata-kata dengan maksud yang sama telah dinubuatkan lebih dari 700 tahun sebelumnya oleh nabi Yesaya:

“Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya. Umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya … ” (Yesaya 53;l0).

Masih terlalu banyak fakta dan nubuat yang tidak ada caranya untuk dibantah berkenaan dengan penyerahan nyawa atau penyaliban Yesus, yang sudah diungkapkan dalam kurun waktu 700 – 1000 tahun sebelum Yesus lahir, a.l.

• Seorang yang ditikam mati karena kejahatan kita (Yesaya 53:5)

• Seorang yang menyerahkan nyawa untuk menanggung dosa banyak orang. (Yesaya 53: 12).

• Nubuat Daud tentang penyaliban (penusukan) tangan dan kakiNya (Mazmur 22: 17-19 dan disusul dengan pembagian pakaianNya dan pengundian atas jubahNya, semuanya tepat digenapi dalam peristiwa penyalibanNya).

Demikian nubuat berlanjut hingga kepada Yohanes Pembaptis (Yohanes 1:27) dan bahkan Yesus sendiri juga banyak menubuatkannya sebelum kematianNya. Lihat Markus10:33, 34; Lukas 9: 22 dll.

Injil Salib :
Jadi, INJIL yang ada didunia ini adalah selalu INJIL-SALIB. Yang ditandai dengan pengorbanan nyawa untuk penyelamatan manusia. Dimanapun dan kepanpun, tidak pernah exist Injil yang non-salib (Yesus tidak mati disalib) kecuali dalam imajinasi/ khayalan tanpa fakta.
Injil itulah Babar Baik – berita kesukaan besaruntuk seluruh bangsa – yang oleh Malaikat Gabriel disebut sebagai lahirnya seorang Penyelamat umatNya (Penebus yang berkorban nyawa, bukan sekedar pemberita). Yang oleh Yohanes Pembabtis disebut “Anak Domba Allah” atau Anak Kurban (Yohanes 1:29)

Nubuat para nabi seperti yang dikutib diatas adalah otoritas eksklusif dari Allah untuk memberitahu suatu kejadian yang akan terjadi dimasa depan -sekaligus untuk meyakinkan orang untuk percaya kepadaNya, karena Ia terbukti menguasai “hari-esok” dan sejarah manusia. Anehnya, sekalipun nubuat yang ternyata benar ini tidak terbantahkan oleh otak dan ilmu manusia manapun, namun HATI dari orang-orang yang tegar-tengkuk tetap mempermasalahkannya.

Dr. McDowell mensinyalir bahwa penolakan terhadap penyaliban/ kematian Yesus bukan merupakan masalah pikiran (benar atau tidaknya), melainkan masalah kemauan. Bukan masalah “saya tak bisa percaya”, tetapi “saya tak mau percaya” . Mereka tetap memilih percaya apa yang jauh lebih sulit untuk dipercayai. Itukah juga pengalaman Anda? Mari kita perhadapkan dengan kasus-kasus dibawah ini.

Menolak Salib dengan klaim bukanlah bukti, sekalipun mengatas namakan Allah

Ada pengkritik yang menolak keras bahwa Yesus itu disalib. Ketika ditanyai apa bukti penolakannya, mereka tidak menyodorkan bukti, melainkan hanya membela dengan “pikiran logisnya”. Padahal, dalam bab sebelum ini, sudah kita perlihatkan bahwa logika bisa tampak sangat meyakinkan, namun kesejatian logika tentang Yesus tak akan pernah muncul bilamana Anda memperlakukan keberadaanNya hanya sebatas manusia insani.
Menurut peng kritik, tidaklah logis jikalau Allah membiarkan Utusan khususNya untuk dihina dan dianiaya dan disalibkan. Bukankah setiap nabi akan dipagari Allah dengan malaikatNya? Namun ketika ditanya lebih jauh, apakah nabi-nabi Allah tidak ada satupun yang pernah dibantai manusia, merekapun segera masuk dalam dilema yang kusut. Ya, sejarah kenabian Israel sedemikian dinodai oleh darah para nabi sehingga Yesus sempat mengecam para ahli Taurat: “Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka …. dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh” (Lukas 11 :4 7, 50).

“Pikiran logis” lainnya yang dilemparkan untuk menyanggah penyaliban Yesus adalah bahwa Yesus itu tak mungkin mati kalau Ia sungguh Putera Allah. Terhadap “gagasan-logis” yang amat sempit dan yang bukan bukti ini, kita justru ingin memberi bukti bahwa kematian Yesus itu adalah kematian-pemenang, bukan mati konyol dan hilang, seperti halnya dengan kematian kita-kita manusia biasa. Kita sungguh perlu menyadari bahwa seajaib “kelahiran Yesus tanpa unsur dunia”, seajaib itu pulalah bisa diharapkan orang akan “kematianNya”. Yesus tidak pernah benar-benar mati dan lenyap seperti orang dunia. Dengan disaksikan oleh banyak pihak, Ia terbukti disalib, dan terbukti mati dalam jasad lamaNya, hingga terbukti Ia dimakamkan. Sampai disini secara fisik Yesus masih tampak sama dengan kodrat kematian jasad manusia. Tetapi, karena Dia bukan berasal dari debu, maka jasadNya tidak kembali jadi debu! Selanjutnya Ia menjadi amat berbeda melewati kodrat dunia: Ia terbukti bangkit kembali, menjadi pemenang, dengan tubuh-kemuliaan yang berbeda samasekali! Dengan tubuh kemuliaan baru, yang kompatibel dengan unsur sorgawi inilah Ia diangkat masuk kesorga, lagi-lagi dengan bukti banyak saksi mata bahkan malaikat.

Deretan peristiwa “penyaliban dan kebangkitan” inilah yang merupakan puncak dari penggenapan misi Yesus kedunia bagi manusia, yaitu kematian yang mengalahkan MAUT, suatu kematian yang sukses dengan kebangkitan (lihat bab 3, Definisi Sukses)! Disini nubuat Yesus dipenuhi sepenuhnya, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian (yang sudah dijanjikan dari dulu), yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” Kini manusia tertebus dari perhambaan dosa yang membawa maut – menjadi anak-anak yang dimerdekakan dalam Yesus: “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa …. apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” …. dan sekarang, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Yohanes 8:34, 36; Roma 6: 18).

Namun anugerah “penyaliban dan kebangkitan” ini bukannya diterima-baik oleh manusia, melainkan terus diingkari dan ditolak orang dengan pelbagai pendalilan. Merekan menolak semua bukti; dari para saksi mata maupun dari nubuat yang tergenapi! Mereka malahan menggagaskan Injil-nan-salib sebagai Injil-Asli, dan Injil-Salib dituduh sebagai sempalan palsu. Mereka menggagaskan pula bahwa Injil-non¬Salib ditandai dengan Yesus yang tidak disalib melainkan diraibkan Allah. Namun bila Yesus diraibkan begitu, sesungguhnya tidak ada Kabar Baik apapun yang dapat diberikan oleh seorang Yesus kepada dunia. Ia malahan hanyalah nabi yang gagal dalam segala-galanya karena tidak mampu mempertanggung-jawabkan tugas-kenabianNya yang paling substansif:

(1). Ia tidak membela murid-muridNya yang sedang tak berdaya dan ketakutan diteror oleh orang-orang Yahudi. Ia mencari selamat sendiri sambil meninggalkan mereka, bahkan menghilang entah kemana tanpa pamit! Ia pembohong, karena Ia yang mengajak para muridNya dengan berkali-kali berkata:
“Ikutlah Aku!” (bab XI), tetapi ternyata Dialah yang memutuskan relasi, dan ngacir pergi.

(2). Ia harus bertanggung jawab kenapa “Injil Asli non-salib” itu sampai hilang, karena belum pernah ditemukan dunia hingga sekarang. Ia setidaknya harus menitipkan, atau berpesan sesuatu untuk mengamankan “Injil-Asli” tersebut, sehingga “Injil-Salib” yang dianggap palsu, jangan sampai merajalela seperti sekarang. (Tetapi pengkritik tidak berani menyinggung apakah mungkin Firman Allah yang sengaja diwahyukan kedunia itu bisa dihilangkan oleh manusia? Apakah manusia mampu “mendiktekan wahyu-mereka” balik kepada Allah dan mengalahkan wahyu-asli-Allah?).

(3). Para pengikutNya juga hilang semua tanpa bekas, karena ternyata hilang dari sejarah, dikalahkan ajaran bidat dari semua “rasul-rasul-palsu” yang mengajarkan “Injil-Salib”! Bermilyar-milyar manusia pengikut Yesus yang disalib telah dituntun dalam kesesatan. Yesus yang sudah diutus dan diperlengkapi Allah dengan segunung mujizat raksasa, malahan menciptakan tragedi yang terbesar bagi Kerajaan Allah!

Jadi, lihatlah betapa otoritas Injil-Salib itu tidak bisa begitu saja di-otak-atik atau dihilangkan oleh manusia. Sekali mereka melakukannya, mereka harus menging¬kari dan “menghilangkan” (yang tidak bisa dihilangkan) bukti-bukti sejarah, sains, dan logika yang paling mendasar. Yaitu hilangnya Yesus (entah kemana, tanpa saksi, tanpa bukti), hilangnya seluruh pengikutNya, dan hilangnya Injil-Salib. Padahal semuanya tidak ada yang hilang, kecuali “Injil-non-Salib” yang justru hilang sendiri, tidak tercarikan dalam sejarah dan arkeologi! Itukah rencana dan karya Allah?

Banyak orang tidak sadar bahwa Allah-Alkitab sangat mengutuki Injil-injilan manapun yang berpolakan non-salib. Bahkan bilapun gagasan penyangkalan salib itu diklaim datangnya dari seorang malaikat-sorga, Tuhan tetap melaknatinya: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda (non-salib) dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, (Injil Salib) terkutuklah dia” (Galatia1 :8).

Arti dari ayat ini hanya satu, yaitu bahwa Yesus dan Injil-Salib (Firman) itu lebih besar daripada malaikat wahyu yang mengatas namakan Allah!

“(Ia, Yesus) jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat” (Ibrani 1:4; Matius 24:30, 31).

Jadi, andaikata Yesus dan malaikat sama-sama berwahyu, tetapi nyatanya membawakan pesan-pesan yang saling bertentangan, maka wahyu Yesus itulah yang absah (lihat bab 7, Yesus Itu Firman Allah), dan terkutuklah simalaikat tersebut!

Tidakkah kita melihat bahwa hanya Yesus yang berani dan berotoritas “meningkatkan” standar moral Hukum Taurat tatkala Ia berkotbah dibukit? Ia berkata “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Yesus memperhadapkan “apa kata firman Allah” dengan “apa kata Yesus”. Itu jelas tidak bisa dilakukan oleh “Akunya” Yesus dengan otoritas yang kurang dari Allah!

Penebusan Salib dapat ditolak, namun keselamatanNya tak dapat digantikan, sekalipun itu mengatas-namakan Allah

Penolakan terhadap penebusan-salib juga sering didasarkan atas “logika-pahala”: Mana mungkin keselamatan (naik kesorga) diberikan kepada orang yang percaya saja tetapi tidak berprestasi dalam kesalehan dan amal-pahala? Ya, banyak pihak yang percaya bahwa keselamatan bisa diusahakan dengan pelbagai filsafat hidup, ajaran-ajaran hidup bersih, tidak menjahati orang, melainkan melakukan amal-ibadah yang mendatangkan pahala. saja. Dengan demikian, mereka percaya bahwa manusia cukup diberitahu oleh Pemberita-keselamatan (nabi atau pemberi peringatan). Lalu selebihnya adalah urusan masing-masing apakah sungguh-sungguh mau berusaha dan “berprestasi” untuk mendapatkan selamat atau tidak. Masing-masing dan sendiri-sendiri!

Disinilah sedihnya bahwa mereka kembali tidak mengandalkan sumber-daya dari atas yang ditawarkan Yesus. Bukankah Yesus itu sosok Imanuel , yang berarti “Allah menyertai kita”? Yesus menjanjikan penyertaan Allah bagi kita sampai kepada akhir zaman, dan tidak membiarkan kita berjuang sendiri-sendiri yang bagaimanapun tidak akan kita menangkan tanpa Dia. (Matius 1:23; 28:20; Yohanes15:5). Konsep pengusahaan pahala lewat diri sendiri, walau seolah logis ketelinga, namun mendengungkan sedikitnya dua pertanyaan kritis:

(1). Bisakah amal-pahala menghapus atau meringankan dosa?
(2). Mampukah manusia yang berwatak-dosa ini menyelamatkan diri-sendiri?

Sayang bahwa keduanya harus dijawab dengan TIDAK!

AD (1).

Amal-pahala meringankan dosa? Dan banyak orang yang murah hati berkata bahwa itu seharusnya memang begitu. Tapi jangan kaget bahwa Allah yang paling bermurah hati sekalipun harus mengatakan TIDAK! Dimata Tuhan yang Maha Kudus dan Benar (bukan dimata manusia), dosa yang setitik adalah ibarat segunung kenajisan, yang tetap memisahkan Allah dengan manusia. Tuhan tidak bisa Maha-Adil dan Benar bila Ia tidak secara konsekwen menghukumnya, dan upah dosa yang dianggap secuil itupun tetaplah maut, yaitu kematian kekal, terputus dengan Sumber kehidupan (Kejadian 2: 17, Roma 6:23). Seseorang yang dikenakan hukuman mati tidak mungkin digantikan menjadi non-mati mentang-mentang ia berjasa dan berpahala. Itu adalah penghakiman politis, bukan penghakiman ilahi.

Tuhan tidak berhutang amal-pahala
Dimata Tuhan, prestasi amal-pahala kita yang segunungpun tidak memberikan kita kelonggaran (apalagi hak) untuk satu kali menzalimi orang lain!
Bahkan, tepatnya, manusia (hamba Allah) sesungguhnya tidak mempunyai amal-pahala apapun dihadapanNya. Tuhan tidak berhutang kepada siapapun, yang harus dibayar dengan tiket masuk Sorga. Segala sesuatu adalah milkNya, termasuk yang kita anggap (klaim) sebagai “pahala kita”. Budak/hamba tak punya apapun. Yang ada hanyalah yang datang dari anugerahNya

Harap dimaknai dengan benar, bahwa “perbuatan-perbuatan baik” (amal-pahala usaha dari manusia) itu bukan perbuatan-jasa kepada Allah. Kebaikan itu memang seharusnya dikerjakan demi untuk kebaikan manusia sendiri, bukan mempiutangi Tuhan secara harfiah. Diterimanya kita selamat disisi Tuhan adalah karena penyerahan seluruh diri kita kepadaNya, yaitu karena iman, bukan usaha-jasa. Perbuatan baik, sebaik dan sebanyak apapun, tidak bisa menghapus dosa (kematian-rohani), sama halnya bahwa jasa-jasa terbaik manusia juga tidak bisa mencabut kematian jasmani kita atau membatalkan hukuman gantung yang dikenakan kepadanya. Alkitab dengan jelas berkata:

“Barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yakobus 2: 10).

Dan tidak ada satupun manusia yang sanggup memenuhinya, walau ia yang tak tahu diri merasa sanggup. Hanya Yesus yang mampu menggenapi seluruh hukum karena Ia tidak berdosa dan tidak berbuat dosa apapun. Itu sebabnya hanya Ia yang dapat menjadi Anak Domba yang menebus dosa manusia lewat salibNya. Sekalipun Anda menolakNya, Anda tidak dapat mengganti¬kanNya dengan nabi atau tindak-kenabian (amal-ibadah-pahala) lainnya. Tak ada selainnya yang bisa menyelamatkan. Terbukti tak ada satupun nabi atau guru agung yang berani mengklaim mampu menyelamatkan Anda dan saya, kecuali DIA itulah!

Apa yang disebut-sebut sebagai “prestasi-kebajikan” sesungguhnya bukan itu yang harus dikerjakan duluan. Sebab jikalau itu yang dikedepankan, bisa-bisa itu menjadi “prestasi kesombongan” karena belum dikuduskan. Tuhan memprioritaskan pertobatan kita agar diampuni dan dikuduskan dari kejahatan, dan agar kita mempercayakan hidup kita seluruhnya kepada Dia yang menyelamatkan. Baru setelah itu, kita mampu “berprestasi” dalam keluhuran, yaitu menyangkal diri kita, memikul salib kita, dan mengikuti Dia melakukan perbuatan-perbuatan kasih (Markus 8:34). Jadi bagi kita, melakukan perbuatan baik itu bukanlah usaha-usaha mencari pahala untuk moga-moga mendapatkan keselamatan, melainkan itu merupakan ungkapan syukur dan ujud kasih atas apa yang telah kita peroleh dari Tuhan kita yang baik!

Lihat artikel :
KONSEP/ CARA PANDANG – KASIH KARUNIA, di kasih-karunia-anugerah-vt1624.html#p6296

AD (2).

Kita manusia berwatak-dosa mampu menyelamatkan diri-sendiri?
Disini para penganut “logika-pahala” sering keluar dari jalur teologis dan lupa bahwa persoalan yang sedang kita bicarakan adalah dosa dihadapan Allah (dan bukan dimata manusia). Allah telah berkata bahwa upah (atau akibat) dari dosa adalah kematian kekal. Karena semua manusia adalah orang berdosa (Mazmur 51:7; 58:4; Yesaya 48:8; Ayub 15:14; Roma.5:12, 6: 17-17 dll), mereka adalah orang-orang mati (rohani). Maka mustahil orang mati dapat berusaha menyelamatkan, “menghidupkan” sesama orang mati. Maka tak ada satupun nabi atau guru agung yang tampil mengklaim (apalagi membuktikan) mampu menyelamatkan dirinya sendiri dan orang lain. Ada satu analogi penyelamatan yang diilustrasikan dalam sebuah kisah rakyat Tiongkok.

“Seorang anak-didik jatuh kedalam sebuah sumur sempit yang dalam. Dari atas mulut sumur, guru-gurunya meneriakkan kepada sianak sejumlah petunjuk dan kiat yang harus dilakukan agar ia bisa naik sendiri keatas. Namun sang anak tak mampu melaksanakan “aturan-aturan” penyelamatan-diri. Akhirnya datanglah seorang Maha Guru yang langsung terjun kedalam sumur itu. Dengan ilmu dalamnya yang dahsyat ia berhasil mengangkat sang anak keatas dan diselamatkan”!

Itulah analogi untuk Yesus yang menanggalkan keilahianNya dan turun kedunia untuk menyelamatkan (menebus) manusia yang tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri, betapapun kerasnya ia berusaha menerapkan ajaran-ajaran penyelamatan. Itulah misi Yesus yang tidak ada substitusinya. Ia berkarya sebagai Penebus dan Penyelamat atas orang-orang yang hilang (orang berdosa). Ia bukan sekedar Nabi atau Pengajar Moral moga-moga manusia bisa selamat sendiri dengan aturan-aturan dan ajaran! Dia-lah keselamatan, tempat dosa Anda dan saya tertebus (Matius 26:28, Markus2:5), sehingga selamatlah kita-kita yang mempercayakan diri kita kepada Sang Sumber-hidup, yaitu Dia sendiri, yang tak tergantikan! (lihat bab VIII, sub “Adakah Yesus Maha Kuasa?”, dan bab XI, “Ikutlah Aku”).

Bila keselamatan Penebusan Salib ditolak, adakah jaminan keselamtan lainnya yang lebih baik?

Yesus berkata: “Kalau Aku bersaksi tentang diriKu sendiri, maka kesaksianKu itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku”. Namun banyak agama mengklaim Tuhannya maha-kasih dan maha-penyayang, tetapi tidak memberi bukti, apalagi saksi (adikodrati). Orang sering menunjuk kehadiran embun-hujan-udara-sinar matahari dll sebagai bukti kasih Allah kepada mahluknya, padahal itu bukan ujudnya MAHAKASIH, melainkan lebih cenderung berupa tanggung jawab seorang Khalik terhadap mahluk yang diciptakanNya demi mendukung kelangsungan hidup mereka. Bukti kasih, apalagi Maha Kasih, hanyalah satu, yaitu berkorban sebesar besar korban bagi yang dikasihiNya. Korban terbesar yang dapat diberikan seseorang adalah nyawa sipengorban itu sendiri.
Dan Yesus memang benar mengorbankan nyawaNya diatas kayu salib, demi menebus dosa Anda dan saya. Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya “.

“Anak Manusia (Yesus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 10:45)

Kata “bagi” disini berarti sebagai pengganti. Yaitu menggantikan kematian yang seharusnya kita tanggung sendiri karena dosa dan kesalahan kita terhadap Allah. Dosa adalah kekejian bagi Allah, dan hukumannya adalah maut, kematian kekal.

Namun Yesus menebus kematian kita dengan kematianNya diatas kayu salib, sehingga kita terbebas dari hukuman kekal. Bahkan andaikata di dunia ini hanya hidup anda dan saya, Yesus akan tetap melakukannya untuk kita berdua.

Allah manakah seperti Engkau?
Allah makanah yang membuktikan diriNya berkorban sebesar-besarnya bagi umatNya? Dan Allah manakah yang mengasihi satu jiwa dikolong jembatan, sama seperti Dia mengasihi ribuan bangsa dikolong langit?

Nalar dan logika anda tak akan mampu mempercayainya! Anda tak akan menemukannya di tempat lain, Allah yang begitu komit untuk menyelamatkan anda seorang. Namun itulah yang telah dibuktikan Yesus, sebagaimana yang dikatakannya dalam ayat-ayat berikut :

“Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?”
“Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan”.
“Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.” (Lukas 14:4-7, Matius 18:14)

Resapilah ke batin anda, betapa satu jiwa dari kita begitu berharga dimataNya. Inilah penebusan bagi manusia yang dilandasi MAHA-KASIH-Nya ALLAH yang tiada banding.

Maka jikalau anda mencari Allah yang betul-betul Maha-Kasih, mengapa tidak mencari Dia yang dapat mengasihi anda seorang diri sepenuhnya, sepenuh seperti Dia berurusan dengan 6 Milyar lebih manusia lain yang masal?
Mengapa anda hanya mampu cukup puas dengan kasih Allah yang hanya mampu membuktikan kasihNya dengan klaim, tetapi tidak dengan bukti perbuatan pengorbanan-diri? Dan jikalau anda menolak Salib Penebusan yang melambangkan Maha-Kasih Allah itu semata-mata karena “tegar-tengkuk”, adakah anda mendapatkan konsep keselamatan yang lebih terandalkan?

Siapakah yang sanggup dan peduli untuk menenangkan kegelisahan kita akan kepergian kita nantinya dari bumi ini? Namun, Yesus berkata di dalam janjinya :

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku (Sorga) banyak rumah tinggal….. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada”. (Yohanes 14:1-3)

5 Tanggapan

  1. @ Triani ,

    Apakah makna jawaban Yesus , yg menyatakan jika ada orang yg melihat dia ( Yesus ) maka sungguh ia telah melihat bapa .

    Pertanyaannya , apakah ygt dimaksud melihat Yesus itu maka artinya identik dgn bapa .

    Apakah yg dimaksud adalah sosok wajah manusia yg di lukis oleh Leonardo Davinciitu ?

    Jika demikian seorang anak lebih mirip ayahnya ketimbang wajah ibunya , atinya segitukah sosok penguasa alam semesta yg awal dan yg akhir ?

    Bumi ini ibarat debu yg beterbangan di antreo alam semesta , semacam nohkta diantara sekian banyaknya nokhta yg bertebaran dijagad raya ini , lalu wujud manusia itu adalah ibarat seekor kutu kecil yg merayap di kulit bumi , lalu bagaimanakah sosok sang penguasa alam semesta itu ?

    Ketika nb Musa mau melihat rupa Allah maka menggelegarlah halilintar dan Musa pun pingsan tak sadarkan diri , lalu setelah ia siuman maka menangislah ia meratap memohon ampun akan kelancangannya mau melihat sang penguasa alam , sedang ia adalah hanya sosok makhluk cipataannya yg lemah karena hanya memiliki dua bola mata yg kecil dgn jarak jangkau yg terbatas lalu sekonyong-konyong pengen lihat Allah yg sosoknya

  2. @ Triani ,

    Apakah makna jawaban Yesus , yg menyatakan jika ada orang yg melihat dia ( Yesus ) maka sungguh ia telah melihat bapa .

    Pertanyaannya , apakah ygt dimaksud melihat Yesus itu maka artinya identik dgn bapa .

    Apakah yg dimaksud adalah sosok wajah manusia yg di lukis oleh Leonardo Davinciitu ?

    Jika demikian seorang anak lebih mirip ayahnya ketimbang wajah ibunya , atinya segitukah sosok penguasa alam semesta yg awal dan yg akhir ?

    Bumi ini ibarat debu yg beterbangan di antreo alam semesta , semacam nohkta diantara sekian banyaknya nokhta yg bertebaran dijagad raya ini , lalu wujud manusia itu adalah ibarat seekor kutu kecil yg merayap di kulit bumi , lalu bagaimanakah sosok sang penguasa alam semesta itu ?

    Ketika nb Musa mau melihat rupa Allah maka menggelegarlah halilintar dan Musa pun pingsan tak sadarkan diri , lalu setelah ia siuman maka menangislah ia meratap memohon ampun akan kelancangannya mau melihat sang penguasa alam , sedang ia adalah hanya sosok makhluk cipataannya yg lemah karena hanya memiliki dua bola mata yg kecil dgn jarak jangkau yg terbatas lalu sekonyong-konyong pengen lihat Allah yg sosoknya tak dapat di ukur dgn dimnesi ruang dan waktu , hingga kata Sulaiman mana mungkin aku dapat membuat bait ( rumah ) Allah sedang langit jadi tahtan Nya dan bumi jadi pijakannya ( maha besar ) .

    Lalu bagaimana dgn orang yg di lukis oleh Leonardo Davinci itu ?

    Apakah itu yg jadi jawaban pertanyaan Pilipus ?

  3. Yup Benar mas yanno gue setuju dengan pandapat kamu. Lanjutkan

  4. gak mungkin dijawab tuh sama triani … dia ini kan di desain jadi tukang propaganda saja… mana mungkin bisa debat …. buktinya semua postingan saya saja nggak pernah dicounter dengan alasan sibuk …

  5. […] KE DUNIA Posted on 5 May 2010 by Triani Komentar di sini untuk artikel yang ada di blog ini. This entry was posted in Kristen. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: