III. DARI MANAKAH YESUS DATANG?

Siapapun anda, bila anda menaruh perhatian kepada seseorang, anda akan bertanya:

“Darimana dia datang?” Makin besar sosok orang tersebut, makin getol Anda menanyakan asal-usulnya. Itulah yang terjadi pada Yesus. Maka Injil-pun melukiskan pernik-pernik silsilah dan asal-usul Yesus secara sangat khusus, agar manusia tidak keliru mengidentifikasikanNya.

Ketika orang makin heran akan pemunculan sosok Yesus yang luar biasa, mereka segera bertanya dan menduga-duga dari mana datangnya sosok ini. Ternyata orang-orang ini (dan kita-pun sampai sekarang ini) mengingkari sosokNya gara-gara asal¬kedatanganNya yang tidak memenuhi “kerangka harapan” mereka. Mereka segera memberi kesimpulan logis yang “pintar”: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea” (Yohanes 7 :41).

Ketika Filipus menyampaikan kepada Natanael atas penemuannya:

“Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret”.
Namun Natanael cuma berkata hambar, bahkan sinis:
“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:44-45)

Yang pertama menolak Mesias datang dari lokasi Galilea, padahal Yesus memang dibesarkan dan datang dari Galilea! Yang kedua menerima fakta bahwa Yesus itu datang dari Nazaret (di Galilea), namun menolak gagasan bahwa dusun semacam itu dapat memunculkan sesuatu yang bersejarah! Jadi betapapun benarnya suatu fakta, manusia yang tidak mengharapkan fakta itu terjadi akan tetap sulit untuk dapat mempercayai fakta tersebut. People tend to believe what they want to believe (Manusia cenderung percaya yang dia mau percaya saja). Manusia hanya ingin melihat seorang Mesias itu datang dengan segala kebesaran duniawi: lahir diistana, duduk disinggasana, memerintah dan menghakimi dengan kuasa, dan dielu-elu dalam kemuliaan dunia ….

Namun justru Yesus menunjukkan diriNya dengan cara yang terbalik, tidak populer-tidak diharapkan oleh orang-orang yang memaksakan kebenarannya sendiri. Yesus justru datang dalam ke-hina-dina-an yang “paling tak masuk diakal manusia”:

Ia lahir didesa yang tidak tercari dipeta-dunia, tidak di Yerusalem, tidak di Roma, tidak dipusat-pusat ekonomi, politik, sosial-religi, atau geografi.

Karena kemiskinan dan situasi politik, Ia terpaksa dilahirkan dikandang domba dan dibaringkan dipalungannya, karena tak ada akomodasi gratis lainnya diseluruh kota Daud di tanah Yudea. Namun Ia berkarya tanpa henti-hentinya, walau tanpa fasilitas. Yesus berkata tentang absennya fasilitas fisik bagi diriNya: “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia (Yesus) tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Matius 8:20).

Makin Dia berkarya, mengajar, melayani dan memulihkan kaumNya; makin Dia ditentang, dibenci, dipermalukan dan difitnah. Padahal sedikitpun Ia tak bersalah, tak berbahaya, kecuali sebaliknya bahwa Ia adalah sosok yang paling berjasa dan berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Akhirnya, Dia dikhianati, ditangkap dan disiksa, dihukum mati tanpa pendamping apalagi pembela. Dia disalibkan dan mati. Dikubur bukan dalam kuburan-keluarga …. karena Dia sungguh tak punya apa-apa.Tetapi justru ke-hina-dinaan ini tidak menjadikan diriNya gagal dan kalah. Dia sukses!

Definisi sukses
Sebab sukses bukanlah didefinisikan dengan perolehan medali 3TA (tahta-harta-wanita) melainkan dengan tolok ukur menetapkan sasaran dan berhasil mencapainya. Dan Yesus telah mencapai segenap sasaran untuk mana Ia datang ke dunia, yaitu : untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, … dengan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Itulah sebabnya di atas kayu salib Ia berkata “Sudah selesai” (tetelestai) Mission accomplished!

Bukti kemenanganNya ditandai dengan kebangkitanNya kembali atas kematianNya. Kita akan membahasnya lebih jauh nanti.

Fakta bisa amat logis, namun Yesus menjungkir-balikkannya!

Semua persepsi manusia tentang asal dan cara kedatangan Yesus -seperti yang diharuskan manusia- tampaknya sangat meyakinkan, namun hanya sebatas sepihak dan secara lahiriah! Orang-orang Yahudi yang telah menanamkan kerangka “kebenaran-besi” mereka untuk ciri-ciri seorang Mesias, tidak menemukan hal itu dalam diri Yesus:

“Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapaNya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?” (Yohanes6:42).

Fakta itu “fakta”
Kebenaran-sepihak adalah pembenaran-diri, dan itu telah membutakan hati mereka untuk menelaah “silsilah” Yesus sebagaimana yang Yesus persaksikan diri-Nya sendiri. Mati-matian memaksakan pandangan kita dari fakta-fakta kita, walau terkesan amat logis, bisa sangat menyesatkan.

Yesus tentu tahu sejarah-hidupNya dibumi ini lebih dari pada siapapun. Namun tidak sekalipun Ia merujukkan asal-diriNya dari segi lahiriah. Bahkan Yesus selalu berusaha untuk mengkoreksi pikiran orang-orang yang terlanjur mengkaitkan jati-diril'[ya secara lahiriah. Misalnya, ketika seseorang mengabarkan kepada Yesus bahwa ibuNya dan saudara-saudaraNya sedang mencari Dia, maka Ia-pun meluruskan “persepsi logis” ini dengan bertanya-balik: “Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu? (dan sambil menunjuk kearah murid-murid-Nya, Ia berkata) Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu disorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu” (Matius 12:48-50).

Alkitab selalu merujukkan diri Yesus yang asali-rohani, dan hampir-hampir tidak menyinggung asalnya yang lahiriah. Ketika orang-orang Farisi berkata bahwa Mesias itu anak (keturunan) Daud, maka Yesus menyempurnakan pandangan mereka:
“Jika demikian, bagaimana Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia (Mesias) Tuannya? .. Jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” (Matius 22:43,45, lihat penjelasan di yesus-kristus-tuan-dan-anak-daud-vt949.html#p2685 ). Dengan perkataan lain, Yesus meneguhkan bahwa Dia-lah Tuan atas segala raja dan nabi dan umat (lihat pula Yohanes13:13).

Memang Yesus dalam dimensi kemanusiaanNya mempunyai silsilah-fisik. Loqis! Ia anak manusia. Namun dalam hal itupun silsilahnya mengagetkan, karena Dialah satu-satunya yang tercatat bersilsilah lurus hingga kepada Adam dan Allah! Lebih jauh dari kelogisan itu, sesungguhnya Yesuspun tidak bersilsilah!

Dalam dimensi roh, Dia adalah Firman Allah (Kalimat Allah), yang telah ada pada awal-mulanya, bersama- sama dengan Allah, dalam keilahian Allah. (Yohanes 1:1, lihat artikel yesus-kristus-sang-firman-vt585.html ).

Dia-lah yang menyebutkan diriNya sebagai sosok yang tak berujung dan tak bersilsilah: “Aku adalah Alfa dan Omega (Yang Awal dan Yang Akhir), firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8). Tidakkah wibawa kekekalan ini menghentakkan telinga kita? Ini akan dikupas lebih lanjut dalam bab VII (lihat juga artikel di yesus-kristus-adalah-allah-vt35.html#p1265 ).

Ada pengkritik naif yang menolak gen-surgawi Yesus karena alasan logis yang lain, yaitu jelas-jelas bahwa Yesus dan ibuNya, keduanya sama-sama perlu makan dan minum. Namun Yesus telah menyediakan jawabanNya bagi mereka. Suatu siang, ketika Yesus lapar, haus, dan lelah, Ia diajak oleh murid-muridNya untuk makan: “Rabi, makanlah.” Akan tetapi lebih dari sekedar makan-rninum, Yesus menegaskan kepada mereka: “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal. .. MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya” (Yohanes 4:31,32,34).

Jadi, pengajaran terbaik dari Yesus kepada para kritikus ini adalah bahwa bagiNya, makanan utama tidak diartikan sebagai roti dan ikan sehari-hari.

Percayalah!
Logika sejati tak akan pernah muncul bilamana Anda memperlakukan dan meng-otak-atik keberadaan Yesus hanya sebatas insani. Percayalah!.

Berita Gabriel yang “mustahil” , sehingga perlu diluruskan?

Seperti halnya setiap asal kehidupan, terlebih lagi pemunculan Yesus kedunia tidak bisa dicernakan oleh sains! KedatanganNya bukanlah hasil hubungan fisikal/ biologikal antar sepasang pria dan wanita. Allah tampaknya meminjam rahim seorang perawan Maria yang belum disentuh laki-laki, dan mengutus malaikat Gabriel untuk menyampaikan suatu berita yang “mustahil” kepadanya, dan juga kepada tunangannya, Yusuf, dengan pokok beritanya adalah sbb:

– Bahwa kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi Maria.
– Bahwa maria akan mengandung Roh Kudus
– Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki
– Dan hendaklah Sang Anak dinamai YESUS
– Dan Anak ini akan disebut dengan tambahan 5 nama dan gelar lainnya, yaitu : Kudus, Anak Allah Yang Mahatinggi, Juruselamat, Kristus, dan Tuhan.

Berbohongkah Gabriel? Mungkinkah dan perlukah? Ataukah manusia yang justru tanpa sadar terperangkap dalam “pembohongan diri”, karena ingin memaksakan kebenaran pandangannya sendiri? Tanda-tanda itu memang telah muncul secara riil. Sosok Gabriel telah dikaburkan dengan jati-diri yang lain, dan pesannya digeser dengan makna lain:

1. Mengaburkan sosok Roh Kudus menjadi sosok Gabriel (Jibril)

Kita jarang mendengar orang-orang menuduh Roh Allah atau malaikat berbohong. Namun kita banyak mendengar orang-orang yang menafsirkan Roh Kudus itu sebagai mahluk ciptaan, yaitu Gabriel (Jibril) atau bahkan sebagai manusia “nabi terakhir”. Padahal diseluruh Alkitab -dalam kitab-kitabnya yang mana saja-selalu Roh Kudus atau Roh Allah itu, adalah Rohnya Allah sendiri yang bersifat kekal, dan yang ada sejak semula (Kejadian 1 :2). Amat sederhana untuk melihat bahwa Roh Kudus itu samasekali tak ada kaitan identitasnya dengan Gabriel! Jibril atau mahluk ciptaan lainnya. Bandingkan saja bagaimana Gabriel memperkenalkan dirinya dan bagaimana ia memperkenalkan Roh Kudus. Kepada Zakharia, ia berkata:
“Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus (Nya) …. ” (Lukas 1 : 19).

Sebaliknya, kepada Maria (yang sedang berada dihadapannya) ia berkata:

“Roh Kudus akan turun atasmu” (Lukas 1:35). Ia tidak berkata kepada Maria,
“Aku (Jibril), akan turun atasmu “.

Lebih jauh lagi, bilamana manusia yang tidak kenal Roh Allah itu tetap bersikukuh “men-jibrilkan” Roh Kudus, maka tentulah kandungan Maria itu adalah malaikat Jibril yang akan tinggal disana selama 9 bulan masa kehamilan. Maka dapatkah mahluk Jibril yang sama (“Roh Kudus”) sekaligus masuk memenuhi Yohanes Pembaptis, dan bapaknya dan ibunya (yaitu Zakharia dan Elizabet), karena mereka inipun semuanya dipenuhi oleh Roh Kudus sebelum dan semasa Maria mengandung? (Lukas 1: 15, 41, 67). Bukankah keberadaan mahluk manapun tidak bisa Maha-Ada, serentak ada dimana-mana? Injil amat jelas mengatakan bahwa Roh Kudus akan diberikan Allah kepada setiap kita yang memintanya sebagai anak-anak Allah yang dikasihiNya (Lukas 11 : 13). Cukup satu Roh Kudus untuk semua orang!

“Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.” (1 Korintus 12:4). Namun adakah satu Jibril untuk semua?

Sesungguhnyalah, tidak ada satupun kitab suci didunia yang secara explisit menyamakan Gabriel/ Jibril itu dengan Roh Kudus. Tak ada Gabriel yang memperkenalkan dirinya sebagai Roh Kudus dan tak ada Roh Kudus yang mengklaim diriNya sebagai Gabriel. Malahan tak ada Gabriel yang memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Gabriel selain di Alkitab (Lukas.l: 19). Jadi dari mana “orang-orang pintar” itu bisa tahu bahwa “dia adalah Roh Kudus”, sementara untuk meyakini “dia adalah Gabriel sendiri” saja masih bermasalah. Sesungguhnyalah penyamaan kedua sosok yang amat berbeda itu hanyalah penafsiran yang dipaksakan manusia tertentu, yang tidak mengenal dan mengalami lawatan Roh Kudus. Roh jahat sangat berkepentingan untuk mengacaukan identitas RohNya Allah. Ia tidak mengingini manusia untuk berkenalan dengan Ilahi yang sejati, sebab disitulah terletak titik lemahnya.

Sekali keilahian Roh Kudus dapat dipatahkan maka hubunganNya dengan manusia bisa dialihkan menjadi hubungans esama makhluk saja, yaitu relasi antara manusia dan malaikat (atau setan yang berkedok malaikat). Meninggalkan manusia tetap terasingd ari Roh-Nya Allah justru mampu menyingkapkan kebenaran Allah dalam batinnya. Kebutaan rohani itulah inti keinginan roh-jahat.

Padahal Allah secara pribadi sangat mementingkan relasi diriNya dengan mahlukNya. Dia sampai menyebut diriNya “Bapa”, dan memanggil manusia sebagi anak-anakNya! Dia juga menyebut diriNya Gembala yang menghimpun kawanan ternakNya dengan tanganNya, dan meletakkan anak-anak domba dipangkuanNya. Dia dalam RohNya malahan bersedia datang kepada umatNya dan diam bersama-sama dengan mereka (Yohanes 14:23, Yesaya 40:11, 11:13 dan lihat pembahasan selanjutnya pada bab XI : “Relasi Adalah Segalanya”).

2. Pengaburan pesan Gabriel tentang “Anak Allah”

Sekalipun Gabriel berpesan kepada Maria dengan mengatas-namakan Allah bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, namun pada awalnya Maria tidak mampu memahami konsep ANAK diluar kerangka biologis. Ia bertanya:
“Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Namun Gabriel segera mengkoreksi konsep ANAK seperti yang ada dibenak Maria yang harus bercirikan sentuhan sex/ biologis. Gabriel menjelaskan, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus. Anak Allah. ” (Lukas 1:35)

Sedemikian jelas dan sah-nya sebutan ini berasal dari Allah, namun kita masih menyaksikan bahwa istilah ini tetap dipermasalahkan oleh orang-orang yang merasa lebih mengetahui ketimbang Gabriel dan Maria sendiri. Mereka menyimpangkannya sbb.

a). “Anak Allah” itu dimaknakan dalam pengertian “Allah itu beranak”.

Istilah “Anak Allah” ini disebutkan Gabriel sampai dua kali kepada Maria. Sebutan kedua disusulkan untuk mengkoreksi persepsi yang salah dari Maria, dan ternyata ia dapat menerima penjelasan ini, lalu menyerahkan konsepsi (pembuahan) ANAK untuk dikuasai sepenuhnya oleh Allah yang Mahatinggi. Maka terjadilah mujizat yang terbesar dalam sejarah kemanusiaan, yaitu inkarnasi Allah menjadi anak-manusia, yaitu istilah teologis untuk masuknya keilahian dalam ujud dan kehidupan kemanusiaan.

Gabriel dan Maria jelas tidak berkata salah dan menangkap salah tentang istilah “Anak Allah” yang disebut Kudus! Pengertian kudus itu sendiri sudah memustahilkan gagasan yang tidak kudus, yaitu bahwa “Allah itu beranak karena Ia beristeri”, seperti yang sering dituduhkan pengkritik. Maria dan Gabriel hanya memahami Sang Anak dari konteks Roh Kudus. Mereka mustahil merupakan nara-sumber bagi “keAnak-an” Yesus dalam konteks “Allah beranak karena Ia beristeri” . Mustahil pula itu merupakan akal-akalan dari para-pengikut Yesus yang justru tidak pernah berurusan dengan Maria dalam kapasitas “trinitas-Maria”? Bukankah dengan memasukkan “sang isteri” (Maria) sebagai ilahi bersama-sama Allah dan Anak. para peng kritik sesungguhnya telah menciptakan sebuah “trinitas-Maria”?

Jadi, dalam kesemrawutan tuduhan yang tidak jernih ini, kita justru ingin bertanya balik kepada para penuduh, “Allah manakah yang dipercaya telah beranak karena Ia beristeri?” Allah Kristianitas? Allah Yudaisme? Tidak ada Allah dan tak ada penganutNya yang berpaham demikian, kecuali mungkin dongeng yang pernah muncul dalam mitos Mesir!

Siapa nara-sumber konsep “trinitas Maria”?
Jadi, siapakah yang meniup konsep “Allah itu beristeri dan beranak?” , suatu konsep “trinitas-maria” yang tidak pernah eksis, tersurat maupun tersirat, dalam Injil manapun!

b. Sang Anak Allah dirancukan dengan anak-Allah

Lebih jauh, kita masih melihat betapa peng kritik mencoba mengaburkan istilah Anak Allah menjadi pengertian insani saja, bukan rohani. Mereka mendalihkan itu sebagai istilah Alkitab yang dikenakan kepada semua orang-orang yang percaya kepada Allah, dan dinamakan anak-anak Allah! Namun mereka sungguh memperlihatkan ketidak-pahaman akan bahasa Alkitab, lalu tersesat sendiri, karena yang dapat disebut “Anak Allah” itu adalah satu-satunya, yaitu singkatan dari “Anak Tunggal Allah” (Yohanes 1:14, 18; 3: 16), atau yang sering disingkat menjadi “Anak” saja. Ini sama halnya dengan istilah “Bapa”, Allah surgawi, yang tentu saja bukan “bapa” dalam pengertian kamus dunia, yang bisa banyak jumlahnya. Anak Allah adalah Yesus seorang! Mereka yang mengkritik seharusnya tidak menutup-nutupi fakta kenapa Allah, Yesus, Gabriel, Nabi, Murid, musuh-musuh Yesus -manusia maupun setan-semuanya tanpa kecuali, justru mengakui bahwa Yesus itu Anak Allah! (lihat Matius 17:5; Markus. 14:61, 62; Yohanes 1:34 dll. banyak sekali.), Disini hanya akan dikutib satu teriakan setan yang terpaksa harus mengakui jati-diri Yesus. Dimanapun, pengakuan pihak musuh yang paling musuh itulah yang tak bisa ditolak lagi oleh mitra dan sekondannya: “Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur dihadapanNya dan berteriak: Engkau Anak Allah” (Markus 3: 11).

c). Anak Allah di-interior-ken terhadap Adam

Para sinis sangat terobsesi untuk mem-bonsai kebesaran Yesus, untuk memaksa Dia menjadi mutlak anak-manusia dan tidak lebih. Dikatakan mereka bahwa mujizat kelahiran Yesus yang “tanpa ayah” itu bukanlah barang baru, tak ada yang khusus ajaib yang harus menempatkan Dia sebagai Anak Allah. BUKTINYA, katanya lagi, Adam dan Hawa justru tercipta lebih ajaib karena yang satu lahir “tanpa ayah dan ibu”, dan yang lain lahir dari tulang rusuk Adam saja, namun keduanyapun tetap anak-manusia saja!

Inkarnasi Allah diisyukan sebagai “lahir tanpa ayah”

Lihatlah, betapa permasalahan inti telah sengaja digeser pada kedangkalan. Suatu rahmat SORGAWI yang terbesar dari “kelahiran” Tuhan ke dalam ujud kehidupan manusia demi menyelamatkannya, telah digeser menjadi unsur INSANI saja. Suatu Injil-Kabar-Baik, kini digeser menjadi “kabar aneh” saja, tanpa signifikasi bagi faedah/kemaslahatan umat, yaitu kabar tentang “lahirnya seorang nabi tanpa ayah”.

Mujizat yang total bermuatan rohani, dialihkan menjadi mujizat jasmani. Dan sosok Yesus yang surgawi sekaligus diredupkan dibawah Adam sebagai mahluk yang duniawi. Namun maaf, kita hanya ingin menempatkan makna kelahiran Yesus sebesar sebagaimana yang dimaksudkan Alkitab. Kita tidak bermaksud MENGKATROL status Yesus menjadi lain daripada apa yang dinyatakan Yesus sendiri! Kita sungguh tidak dapat menjadikan Dia Anak Allah dari yang non-Anak Allah semata-mata karena bobot keajaibanNya. Alkitablah yang mengungkap bahwa Ia dalam hakekat dan kekekalan Allah, ada bersama-sama dengan Allah sejak kapanpun (Yohanes 1: 1). Dan ketika Ia di-inkarnasikan (“lahir”) kebumi. Ia yang Allah itu disebut sebagai Anak Allah (Lukas l:35, Yohanes 1:14). Berbeda dengan apapun dan siapapun, kelahiran Yesus itu sungguh bukan kelahiran yang “muatanNya” berasal dari fisik dunia. Ia tidak diciptakan dari debu tanah seperti Adam. Juga tidak dari tulang dunia seperti Hawa. Dia tidak membawa gen debu, gen tulang, atau bahkan gen ibu-Nya! Yesus membeberkan kepada semua, dari mana Anda, saya, dan Dia berasal: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini … Aku keluar dan datang dari Allah”! (Yohanes 8:23, 42).

34 Tanggapan

  1. dan Dia berasal: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini … Aku keluar dan datang dari Allah”! (Yohanes 8:23, 42).

    Nyatanya Yesus dilahirkan diatas bumi, semua manusia dilahirkan diatas bumi, bukan dilahirkan diatas bulan.

    Yesus dilahirkan didalam dunia, semua manusia dilahirkan didalam dunia, kalau Yesus dilahirkan bukan dari dunia ini, lantas Yesus dilahirkan dimana ? Bukankah Ia dilahirkan dikandang domba.
    Bukankah begitu ?

    • Mas, kok muter-muter gitu?

    • Benar sekali, mas Guntur, Yesus datang dari atas; dari Allah, dan turun ke Bumi sebagai manusia. Karena kedatanganNya ke Bumi sebagai manusia, tentu dilahirkan di bumi dan oleh seorang perempuan, dan tempat kelahiranNya adalah kandang domba di Bethlehem.

      salam

  2. Supaya lebih kenal lagi, dan sebelum saya beri komentar tentang, “DARI MANAKAH YESUS DATANG?”,
    boleh tahu anda ini, yang mengasuh blok ini seorang wanita ..?

    Cuman pengen tahu dan kenal saja..

    Terimakasih.

    • Saya asli terlahir sebagai wanita.

  3. Emangnya yesusmu itu darimana neng?

    • Ada apa dengan Yesus, mas?😀

    • Duh……. mas FilarBiru ini, sudah diuraikan panjang lebar dari mana datangnya Yesus, masih ditanyakan lagi dari mana datangnya Yesus. Ada apa mas Filar, are you OK, Mas?

      • Hai Filar Biru….. sudah dapat buku ahmad Deedatnya belum???? beraninya hanya sama cewek. jangan jadi banci dong!

      • Hai Filar Biru…. sudah dapat buku Ahmad Deedatnya belum??? Jangan beraninya hanya sama cewek. Jangan jadi banci dong!!!!

  4. Pantesan gak bisa jawab hhihihiihih………..cewe…..Saya kira bapak Pendeta.

    Kalau gitu saya lebih baik mundur teratur, gue kagak berani melawan cewe takut di jepit hehehehehhe………..

    • Kan saya sudah bilang, jangan muter-muter. Lagipula Alkitab nggak bisa di artikan secara harfiah. Kalaupun di jelasin, saya kira anda tetap nggak akan mau mengerti keyakinan Kristen.

      Salam mas, saya nggak mau berdebat.

    • Mas Guntur jangan mundur hanya karena Triani seorang perempuan. Silakan tanyakan apa yang mas ingin tanyakan.

      salam

  5. Debat memang mantap: http://vedasastra.wordpress.com/2010/04/05/debat-kanaya-vs-willie/

    • Dialog masih lebih baik kok.😀

  6. @ Hh.

    Gue kagak berani debat ame cewe, karena cewe mulutnya ada dua, nanti bisa-bisa jawabannya keatas kebawah,kebawah keatas kagak karuan.
    heheheheheheh……………….
    lagian neng Triani kagak mau berdebat.

    • Jawaban mas guntur juga saya lihat keataskebawah-keataskebawah. Bagaimana ini mas?

  7. Weh. . .ngambek nih ye:mrgreen:

  8. @ Hh

    Kalau jawaban saya keatas kebawah kebawah keatas itumah lagi bikin anak…….hehehehehehehehe…………….

    • Goentoer dan Gilang ini satu orang ya?

    • Begitu ya? Berarti bukan karena punya dua mulut juga ya?

      salam

      • Mulut saya cuma satu.

      • Neng Triani, pertanyaan saya itu bukan untuk neng.

  9. Menurut keyakinan gue nih…..

    parhobass sama dengan Triani, Betulkan ?
    Jangan bohong yah ………………

    Pepatah mengatakan: Sekali kau berbuat kebohongan, seribu kejujuran akan musnah karenanya.

    tapi gak apa-apa berbohong juga yang penting tujuannya untuk kebaikan manusia.
    Selagi kata bohong itu masih di percayai manusia.

    • He he. . . .saya “asli” perempuan. Saya dan Om Parhobas itu beda orang. Tadi saya di tuduh di blog tetangga kalau saya satu orang dengan Fitri, padahal bukan. Sekarang di tuduh satu orang dengan Om Parhobas. Gimana ini?

  10. @Muhammad firman

    Lo nantang gue debat. Lo kira gue takut ama lu seenak jidat lu ngatain gue banci. Lo kalo ngomong jgn menyinggung pribadi orang. Slama gue ngeblog belum ada yg berkata kasar kayak lo.

  11. Lo yang banci gonta ganti nama, memalukan dan tdk punya pendirian.

    Sekarang lu nantang gue silahkan darimana ato gue ngasi pertanyaan

  12. Saya mau anda menjelaskan kpd saya tentang arti dan makna bunyi kitab Matius 7 : 21- 23 ?

    • Mas Yanno, arti dan makna dari Matius 7:21-23 telah sangat jelas, bahwa: orang yang hanya berseru Tuhan, Tuhan, tanpa melakukan kehendak Tuhan, tidak akan mewawisi kerajaan Tuhan.

      Silakan bertanya, mas, kalau masih ada yang kurang jelas.

      salam

  13. dari mana Yesus datang???

    ini lah link jawaban yang sebenar benarnya … silakan dikunjungi…pembahasannya juga logis dan faktual

    mohon disebarluaskan untuk pencerahan ke seluruh indonesia dan juga … dunia.

  14. kasih komentar dong atas link ini …

    • Maaf mas, saya belum sempat mengklik link tersebut karena kesibukan sehari-hari. Mungkin hari minggu, saya akan sempat main internet lebih leluasa.

  15. Mengapa kolom komentar ini tidak ada lagi fasilitas ‘balas’?

    Komentar saya nomor 27 tadinya adalah komentar balasan untuk komentar nomor 17.

    salam

  16. […] MANAKAH YESUS DATANG Posted on 5 May 2010 by Triani Artikel bisa dilihat di sini. This entry was posted in Kristen. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: